Bayu Permana (Pegiat Desa dan Kawasan)

Sebagaimana tercantum dalam Pasal 78 UU Desa tujuan pembangunan pedesaan adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas sumberdaya manusia serta penanggulangan kemiskinan, melalui penyediaan pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.

Selama 4 (Empat) tahun terakhir pengalaman implementasi UU Desa hanya terfokuskan pada realisasi dana desa yang beroritasi dibidang pembangunan infrastruktur desa seperti jalan, irigasi, jembatan, dan lain sebagainya. Sementara itu, pencapaian kesejahteraan, penanggualan kemiskinan juga pemenuhan kebutuhan dasar seperti akses air bersih hanya dapat dimungkinkan terwujud jika kondisi sumber daya alam dan lingkungan desa dikelola sesuai dengan kondisi geografis dan fungsi spasialnya.

Bahkan disektor pengembangan ekonomi pedesaan melalui BUMDesa sebagai motor penggerak ekonomi desa seharusnya dikebangkan berdasarkan potensi dan kondisi eksisting sumberdaya alam dan lingkungan desanya. Dapat dibayangkan, bagaimana mungkin suatu desa mencoba membangun sektor ekonominya melalui suatu destinasi wisata desa sementara dimusim kemarau warga desanya mengalami kesulitan akses air bersih karena kekeringan dan pada kondisi yang lain ketika musim penghujan tiba, terjadi banjir dan longsor dimana-mana.

Dengan demikian, Konsep Desa Lestari yang dijalankan dalam skala desa dan kawasan ini merupakan upaya dalam waktu jangka panjang untuk melakukan kajian yang lebih mendalam terkait dengan ketahanan lingkungan desa sebagai daya dukung alam guna mencapai tujuan dari pembangunan desa yaitu meningkatkan kesejateraan, penanggulangan kemiskitan, pengembangan potensi ekonomi dan pemanfaatan sumberdaya alam juga lingkungan secara berkelanjutan.

Konsep desa lestari sendiri diajukan berdasarkan kesadaran bahwa desa secara geografis yang berada di titik tertentu memiliki fungsi vital dalam menjaga struktuk yang membentuk kawasan tertentu secara menyuluruh (hulu-hilir). Seperti contoh beberapa desa di Kecamatan Cidahu dan Cicurug yang secara geografis berada di wilayah hulu Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Cicatih – Gunung Salak memiliki fungsi spasial untuk menjaga daerah tangkapan air (Catchment Area). Sehingga segala perubahan kondisi wilayah desa secara fisik akan berdampak pada desa lainnya yang berada di wilayah tengah atau hilir Cicatih.

Oleh karena itu, Desa Lestari merupakan penjabaran lebih detil dari indikator ketahanan lingkungan desa dimana proses pengambilan data spasial, demografi, geografi dan lain sebagainya disusun dengan melibatkan seluruh stakeholder yang ada didesa sehingga semua elemen masyarakat memiliki pengetahuan yang untuh juga data presisi mengenai struktur ruang dan potensi alamnya, Sehingga dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kesejahteraan masyarakat dengan atau tanpa mengakibatkan berbagai bentuk bencana atau krisis lingkungan dimasa depan.