https://la-li.or.id/ Sukabumi, 25 Oktober 2016

Pemberdayaan sejatinya harus mampu menciptakan kemandirian dan kestabilan yang berkelanjutan, maka pendampingan dan peningkatan kapasitas merupakan syarat mutlak yang harus ada dalam proses pemberdayaan. Kemandirian yang dimaksud salah satunya dalam sektor ekonomi.  LA-LI sebagai lembaga yang terlibat dalam proses pemberdayaan bekerjasama dengan POKJA Desa Cisaat, Pengusaha Budidaya Ulat Jerman, dan disponsori oleh PT. Aqua (Aqua Lestari) menggelar kegiatan “Studi Banding Pelatihan Keterampilan & Kewirausahaan POKJA Desa Cisaat (Program Budidaya Ulat Jerman)”. Pelaksanaanya tepat pada hari  ini Selasa 25/10/2016 di tempat budidaya ulat jerman Desa Cikidang Kecamatan CIKIDANG-SUKABUMI.

Studi banding dan pelatihan kewirausahaan budidaya ulat jerman dilakukan oleh POKJA sebagai bentuk implementasi program LA-LI dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat. Pilihan bisnis yang akan dilakukan yaitu ternak budidaya ulat jerman. Ulat jerman disebut juga sebagai Zophobas Mario atau superworm. Kehidupan ulat jerman terdiri dari 4 tahap yaitu : Telur – Larva (ulat) – Kepongpong – Kumbang. Para peternak memanfaatkan Larva / Ulat Jerman untuk dibudidayakan sehingga mendapat penghasilan tiap bulannya. Budidaya ulat jerman bisa menjadi alternatif bisnis yang menjanjikan dan prospektif karna dirasa paling mudah dilakukan, juga segmentasi pasarnya yang cukup terbuka baik di pasar nasional maupun internasional. Saat ini di indonesia ulat jerman digunakan untuk pakan hewan yaitu untuk pakan burung kicauan, pakan ikan arwana, pakan reptil, dan pakan hewan serangga lainnya. Sedangkan di luar negeri, ulat jerman utamanya digunakan sebagai konsumsi manusia dan sebagai bahan kosmetik.

Pelatihan Budidaya Ulat jerman berlangsung dari pukul 10.00 – 12.00 WIB, dalam pembukaannya Bayu Permana (Inisiator Studi Banding & Pelatihan Kewirausahaan LA-LI) mengatakan “budidaya ulat jerman sebagai lahan investasi bagi kelompok masyarakat yang paling mudah dilakukan, melihat segmentasi pasarnya yang terbuka”. Tidak hanya itu Bayu juga mengatakan bahwa kemandirian dan kedaulatan mampu dibangun dari kemandirian perekonomian masyarakat desa, sehingga dalam konsep pemberdayaan kita didorong untuk ikut terlibat membangun masyarakat yang mandiri dan berdaulat secara ekonomi. Ujarnya.

Selanjutnya Pak Nuryani (pemateri/instruktur pelatihan sekaligus pengusaha budidaya ulat jerman) menegaskan bahwa “budidaya ulat jerman bisa menjadi salah satu alternatif bisnis yang sangat mungkin dilakukan oleh POKJA Desa Cisaat bahkan masyarakat lain, karna budidaya ulat jerman tersebut kita tidak perlu memiliki kaemampuan khusus atau modal yang mahal, asal ada kemauan dan motivasi yang tinggi untuk berwirausaha, bisnis tersebut bisa dijalankan tanpa perlu menyita waktu lama. Tegasnya.

Banyak cara untuk membangun kemandirian dan kedaulatan ekonomi bahkan dari hal terkecilpun, asalkan sesuatu itu memiliki peluang dan prospek yang menjanjikan maka jangan sia-siakan peluang tersebut. Pilihan POKJA Desa Cisaat adalah membangun kemandirian ekonomi melalui budidaya “hileud” (Ulat Jerman). (ASZ)